Showing posts with label Beasiswa. Show all posts
Showing posts with label Beasiswa. Show all posts

Tuesday, August 4, 2015

Meraih Beasiswa LPDP (2)




Lokasi tes wawancara untuk pendaftar Jabodatabek berada di kampus STAN, Bintaro, Tangerang Selatan. Pusing saya memikirkan cara menuju Bintaro. Sejak kerja jadi wartawan di Jakarta, hanya kurang dari 5 kali saya menginjak kawasan Bintaro. Selain itu, jadwal hari pertama adalah pukul 9 pagi. Akhirnya saya menetapkan target, harus tiba di STAN pukul 8.30. Apakah saya bawa mobil saja, atau naik taksi? Atau naik kereta? Atau bahkan naik ojek…?. Hmmm, googling lah saya, dengan keyword STAN Bintaro. Ternyata ada banyak blog yang memberi penjelasan rute ke STAN Bintaro lewat angkutan umum, kompliiit.

Setelah googling, saya juga tanya – tanya ke teman kantor lewat whatsapp. Saya ambil keputusan, tetap naik mobil ke kantor, parkir di kantor, lalu naik commuter line di Stasiun Palmerah. Benar saja. Stasiun Pondok Ranji ditempuh kurang dari 45 menit dari stasiun Palmerah. Dari stasiun, sebenarnya ada Angkot yang terparkir sekitar 5 menit jalan kaki dari pintu keluar stasiun. Karena 10 menit lagi jam setengah 8, saya memutuskan naik ojek bertarif 10 ribu rupiah, dan turun tepat di depan pintu Aula STAN. Ehehhe

Aula STAN ini nampaknya tidak dirancang sebagai ruangan ber-AC. Walhasil, beberapa kipas angin di pojok ruangan tidak mampu menetralkan udara panas yang membuat ratusan peserta tes sibuk mengipas diri masing – masing.
Di Hari pertama ini, peserta membawa dokumen asli, sesuai dengan data yang telah diinput saat mendaftar online. Saat itu, ada seorang pelamar beasiswa S3 harus pulang ke Bandung karena transkrip nilai S2 asli miliknya berada di Bandung. Untunglah, sekitar jam 3 sore, pelamar tadi bisa kembali dan menunjukkan dokumen aslinya.

Dokumen yang diperiksa adalah formulir online yang sudah diprint, ijasah, transkrip nilai, sertifikat tes bahasa, akte kelahiran. Namun, peserta, termasuk saya, juga membawa sertifikat lainnya, seperti sertifikat prestasi saat menjadi mahasiswa. Bagi yang sudah punya, verifikator juga akan memeriksa LoA. Saya sendiri ditanyai oleh verifikator. “ini LoA masih conditional ya? Kapan dilengkapi supaya jadi unconditional..?

Hari pertama tes wawancara, saya kebagian ikut Leaderless Group Discussion (LGD) di jam 9.15. Peserta LGD dibagi menjadi kelompok. Per kelompok terdiri dari 12 orang. Saat itu, topik LGD kami terkait politik, yakni opini Kwik Kian Gie berupa analisis kenapa Presiden Jokowi harus menaikkan harga BBM ketika itu. Penguji LGD adalah dua orang psikolog. Mereka tidak memperkenalkan diri. 2 ibu psikolog di ruangan membagian fotokopi artikel Kwik yang dimuat di harian Kompas. Saya sendiri sudah membaca opini Pak Kwik via online. Namun, LGD bukan menguji analisa atau opini ataupun debat para peserta. Psikolog di ruangan kami menjelaskan, yang ingin dilihat adalah bagaimana sikap para peserta selama proses diskusi berlangsung. Sebelum diskusi dimulai, saya menawarkan diri menjadi moderator.

Seingat saya, proses LGD hanya berlangsung 20 atau 30 menit saja. Selanjutnya, seluruh anggota kelompok kami bisa meninggalkan area STAN Bintaro.


Saat tes wawancara hari kedua, saya sudah berani meninggalkan ojek dan memilih naik angkot menuju kampus STAN. Saya merasa hari itu lebih berat dari sebelumnya. Saya harus berhadapan dengan 3 panelis, membuktikan kenapa saya pantas mendapatkan beasiswa ini. Saya kembali bertemu dengan rekan sekelompok kemarin. Ada beberapa teman yang sudah lebih dulu diwawancara. Namun, peserta yang sudah melalui tes dilarang keras untuk memberitahu pertanyaan ataupun interaksi yang berlangsung saat wawancara berlangsung..

Saya diwawancara 2 orang bapak dan 1 orang ibu. Mereka tidak memperkenalkan diri. Sesi wawancara dimulai dengan menanyakan informasi pribadi berupa pekerjaan, jenjang pendidikan sebelumnya. Saya sendiri ditanyai apa hubungan saya dengan pemberi surat rekomendasi dan bagaimana saya bisa mendapat surat rekomendasi dari referee saya. Sejauh ini, sesi berlangsung lancar,

Tapi, benar kata pepatah, bahwa kita tidak boleh terlalu dini berpuas diri. Ibu panelis di ujung kiri, ternyata pernah mengambil S2 di bidang komunikasi, sama dengan bidang yang akan saya ambil. Dannnnn, pertanyaan – pertanyaan berikutnya dilontarkan dalam bahasa Inggris. Dudududu.

Terjangan pertanyaan dari si Ibu berusaha saya tangkis. Sampai akhirnya Bapak panelis paling kanan bertanya dengan bahasa Indonesia. Legaaaa. Pertanyaan bapak ini, adalah, apakah saya berminat menjadi dosen setelah sekolah nanti. Saya jawab dengan agak ragu sebenarnya. Jika ada peluang, saya tidak keberatan, begitu jawabku ketika itu. Bapak panelis tadi cukup puas dengan jawabanku.

email yang dinanti
Cobaan berikutnya datang dari bapak panelis yang di tengah. Kali ini, dia tidak bertanya dalam bahasa Inggris. Tapi, “perintahnya” membuatku sempat terdiam beberapa saat, dan saya rasa, mukaku merah saat itu. Hahhaa. Dia menyuruh melakukan reportase langsung dalam bahasa Inggris. Permintaan bapak ini diiyakan pula dengan bersemangat oleh Ibu panelis.

Jujur saja, saya terbata saat melakukan reportase langsung. Topik reportasi saya, adalah suasana seleksi wawancara LPDP hari itu. Maksudnya, biar gampang gitu. Tapi, tetap saja saya tidak all out. Saya tidak menyiapkan diri untuk hal yang satu ini. Benar saja. Panelis mengeritik cara reportaseku yang tersendat, dan tatapan mataku yang menyebar. Hahhaahaha. Ampuuun panelis.

Lega rasanya saat waktu akhirnya habis untuk sesi wawancaraku. Saya keluar ruangan lewat pintu cokelat bergagang besi. Di luar, teman – teman kelompokku bertanya dengan khawatir.. “gimana ki..”. saya bingung jawab apa. Yang pasti, mukaku merah. Macam pegulat The Rock yang baru saja selesai dibantai Rikishi. LOL

bersambung 

baca juga Meraih Beasiswa LPDP (1) 

Monday, August 3, 2015

Rangkuman 10 Langkah Sekolah di Luar Negeri dengan LPDP


To do list: 

1. PILIH KAMPUS IMPIAN. Inilah langkah paling awal yang menentukan langkah selanjutnya dalam meraih beasiswa ke luar negeri. Seperti apa kampus impian itu? Berikut di antaranya alasan yang membuat kampus tujuan kita jadi kampus impian

- Program studi atau jurusannya sesuai kebutuhan dan keinginan
- Negara tempat kampus itu sangat kita impikan 
- Metode riset dan pengajarnya kita kenal punya reputasi baik 
- Kampus tersebut menawarkan pengalaman magang di perusahaan yang kita impikan 
- Dan seterusnya 
Setelah memenuhi kriteria kampus impian, buatlah opsi kampus A, kampus B, dan kampus C. A adalah prioritas pertama, B prioritas kedua, dan seterusnya. 
Pada proses memilih kampus, bukalah website kampus sesering mungkin untuk mendapat informasi mengenai syarat, modul yang diajarkan, lama masa studi, dan seterusnya. 

2. Bukalah jadwal seleksi kampus sembari mengecek jadwal seleksi beasiswa LPDP. Sesuaikan jadwal intake kampus dengan waktu seleksi hingga pengumuman beasiswa LPDP. 

3. Siapkan persyaratan yang dibutuhkan. Misalnya IELTS/TOEFL. Menentukan mengambil kursus persiapan IELTS atau TOEFL sangat bergantung dengan syarat dari kampus yang sudah kita tentukan sesuai poin 1 di atas. Memilih kampus juga akan menentukan perlu tidaknya kita mengantongi sertifikat tertentu seperti GRE dan GMAT yang lazim dipunyai calon mahasiswa yang akan melamar ke Amerika Serikat. 

Siapkan pula dokumen seperti ijasah dan transkrip nilai terjemahan, paspor, surat rekomendasi dari kampus/atasan/tokoh masyarakat, serta siapkan draft untuk motivation letter atau esai. 

4. Langkah berikutnya bisa dilakukan secara paralel;
- menyiapkan data pribadi, ijasah, transkrip nilai, surat rekomendasi, esai sesuai tema LPDP, surat izin kesehatan, surat keterangan sehat dst, untuk syarat seleksi administrasi LPDP
- menyiapkan data pribadi, ijasah, transkrip nilai, paspor, sertifikat IELTS/TOEFL, GRE/GMAT, surat rekomendasi, dan motivation letter/personal statement/esai untuk syarat mendaftar ke kampus dan mendapat LoA. 

5. Meski tidak mewajibkan adanya LoA untuk mendaftar, alangkah baiknya, kita sudah mengantongi minimal 1 LoA sebelum men-submit¬ pendaftaran untuk LPDP. Dengan begini, kita punya “amunisi” dan kepercayaan diri saat menghadapi seleksi wawancara LPDP. 

LoA terbagi dua. Ada conditional dan unconditional. Untuk mudah mengingat, saya selalu membayangkan lagu Katy Perry yang berjudul “unconditionally”, artinya tanpa syarat. Nah, untuk diterima di kampus impian, kita harus mendapatkan LoA tanpa syarat. 

Saya pernah mendapat LoA conditional karena belum mengirimkan sertifikat IELTS. 

Kampus – kampus di UK rata – rata memberi LoA pada 7 hari kerja hingga 10 minggu setelah berkas pendaftaran kita terkirim. (akan ada konfirmasi saat berkas kita sudah diterima pihak admission. Pihak Cardiff University memberi saya LoA conditional dalam 15 hari kerja. Sementara, Saya mendapat LoA Unconditional dari Glasgow “hanya” dalam waktu 5 hari kerja. Begitupula LoA Unconditional dari Monash University Australia sudah saya terima dalam waktu 5 hari kerja. 

6. Apakah sulit mendapatkan LoA? Perlukah menggunakan agen?

contoh LoA unconditional


Untuk penggunaan agen, ada beberapa hal yang perlu dijawab
- Apakah Anda bekerja atau memiliki kesibukan lain yang seringkali tidak bisa ditinggalkan?
- Apakah Anda hanya sesekali terkoneksi dengan internet berkualitas 
- Apakah Anda masih memiliki kendala memahami surat dalam bahasa asing?
- Apakah Anda punya tenggat waktu tertentu untuk melaksanakan pendaftaran kampus hingga pengurusan visa? 
Kalau jawaban pertanyaan di atas semuanya YA, maka YA, anda butuh agen.


Beruntung saya tinggal di Jakarta. Sudah banyak agen pendidikan yang bisa membantu kita mendaftar universitas hingga mendapatkan visa pelajar. Bahkan sebagian besar agen memberikan pelayanan secara cuma – cuma. 
Saya pernah menggunakan bantuan IDP di Kuningan untuk mendaftar ke salah satu kampus di UK. Namun, saat mendaptkan LoA uncontional dari University of Glasgow, saya mendapat bantuan dari Mbak Rita di IBEC (Indonesia – Britain Education Center). Untuk aplikasi visa, saya memberanikan diri mengurus sendiri. 

Masih ada sederet nama agen pendidikan yang sudah tersebar di kota – kota besar di Indonesia. Selain IDP dan IBEC, ada pula SUN Education, Euro Management, dan seterusnya. Masing – masing agen melayani universitas tertentu dari negara tertentu. Jangan lupa ikut pameran pendidikan. Bagi yang tinggal di Jakarta, biasanya 1 atau 2 pekan sebelum pameran, ada iklan pameran pendidikan lewat spanduk ataupun billboard di lokasi strategis ibukota. 

contoh iklan pameran pendidikan

Apakah begitu sulit untuk mendapat LoA tanpa agen? 
Jawabannya TIDAK. Saat mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP, saya bertemu banyak sekali kawan, yang mendapatkan LoA tanpa bantuan agen. Bahkan banyak di antara mereka yang tetap melakukan rutinitas seperti bekerja atau melakukan penelitian. Saya sendiri merasa tertampar karena kenyataan ini. Hehee. Untuk membalas perasaan bersalah ini, urusan visa dan immigration health surcharge saya selesaikan sendiri. Tentu dengan modal bertanya kepada teman dan mencari di internet. 




7. Apakah sulit diterima beasiswa LPDP?
Jawabannya, Tidak juga. Ada seribu satu cerita penerima beasiswa luar negeri untuk pertanyaan ini. Satu kuncinya; selama kita memenuhi syarat, pasti kita mendapat LoA dan lulus seleksi LPDP. 

Ada banyak sekali referensi blog yang menceritakan pengalaman mereka lulus LPDP. Tak kalah banyak juga, artikel berisi kekecewaan karena tidak lulus LPDP karena yang bersangkutan sudah memenuhi syarat. Untuk permasalahan ini, seringkali saya bercerita kepada teman – teman yang menanyakan langsung. Kira – kira begini….
“setelah lulus seleksi administrasi, satu – satunya momen bagi LPDP untuk mengenal kita, adalah melalui seleksi wawancara. Berkas yang sudah kita masukkan akan diverifikasi. Kita juga akan menghadapi panelis yang akan membubuhkan catatan – catatan selama berinteraksi dengan kita. Jangan lupakan, ada leaderless group discussion yang merupakan momen kita untuk dinilai oleh para psikolog. Jadi, bisa saya simpulkan, seleksi LPDP itu lahir batin. Bukan hanya data dan kata lahiriah yang kita harus siapkan. Dukungan batiniah juga harus kita kantongi….”

8. Jangan lupa kelola dokumen kita 
Saat mendaftar kuliah dulu, cara kita menjaga dokumen adalah dengan memfoto copy. Sekarang, hal itu tak lagi cukup. Kita perlu memindai (scan) dokumen, dan meng-uploadnya di cloud. Yang popular adalah google drive, dan dropbox. Saya sendiri menggunakan google drive. Karena mengurus LoA dan LPDP sembari tetap bekerja, seringkali saya juga menggunakan komputer di kantor setelah liputan. Tak perlu tiap hari membekali diri dengan usb flashdisk. Semua data saya sudah ada di akun google drive dan bisa dengan sangat mudah didrag dan menjadi lampiran email. Beberapa kali saat urgent pun, saya mengakses google drive via ponsel. 

9. mintalah izin ke kantor atau pihak terkait
meski sudah karyawan tetap, saya masih punya ikatan dinas di kantor. Karena itu, penting bagi saya agar atasan saya tahu bahwa saya akan sekolah. Sejak 1 tahun sebelum berangkat, saya sudah meminta izin ke atasan langsung. Saat itu, saya akan mengambi kursus persiapan IELTS. Kursus ini berlangsung intensif selama 5 minggu. Sebagai karyawan swasta dengan jam kerja dinamis, saya harus mengamankan jadwal saya, agar kerja dan kursus tetap berjalan beriringan. Selain itu, LPDP juga mensyaratkan adanya surat izin atasan bagi pelamar yang sedang bekerja. 

10. Cari dulu baru tanya
Kalimat “cari dulu baru tanya” ini sudah akrab pada diri saya sejak kecil. Adalah mama saya yang memopulerkan kalimat ini. Uniknya, kalimat ini sangat berlaku pada saya ketika mengurus kuliah dan beasiswa S2. Tapi, bukan berarti saya jadi alergi bertanya. Bertanya adalah sumber informasi, tapi, bertanya pada google, juga sumber informasi di masa kini. Terkadang, ada teman saya (seringkali juga saya sendiri), yang mendahulukan bertanya daripada mencari informasinya di internet. Sebaliknya, terkadang pula ada yang menunda – nunda bertanya, padahal informasi di internet tidak ada, atau informasinya sulit dipahami (ini juga terjadi pada saya). 

Tipsnya, kita bisa memetakan waktu – waktu ideal berselancar di internet untuk mencari tahu sesuatu. Misalnya, mencari tahu apakah kampus kita akan mengadakan orientasi atau pengenalan sebelum kuliah bagi mahasiswa baru. Informasi ini ada di website, namun dalam bentuk video. Solusinya, catat dan simpan linknya, lalu akses saat kita mendapat wifi gratis nan kencang. Hehe. 

Tips kedua, carilah 3 – 4 orang yang bisa dichat sewaktu – waktu untuk bertanya hal tertentu. Misalnya, saya punya 2 orang teman yang bisa ditanya mendetail soal visa. Selain itu, saya juga punya 1 orang teman yang menguasai seluk beluk registrasi kampus, karena mendaftar tidak melalui agen, dan mendaftar lebih dulu dibanding saya. Beruntung juga bagi saya, karena rekan – rekan PK 29 LPDP, sering membagi informasi bermanfaat. Mulai dari informasi soal akademik, kehidupan mahasiswa di negara tertentu, hingga informasi tempat penukaran uang dengan rate terbaik. 

Demikian 10 langkah meraih beasiswa LPDP di kampus impian. Mohon maaf jika ada penjelasan di atas ada yang kurang berkenan. Semoga berkah Allah SWT meliputi kita sekalian. Amiin

-------------------++
daftar perguruan tinggi tujuan beasiswa LPDP klik di sini
petunjuk pembuatan akun pendaftaran beasiswa LPDP klik di sini

Thursday, June 4, 2015

Meraih Beasiswa LPDP (1)

Selalu ada langkah kecil untuk raihan yang besar. Saya belajar untuk bersabar, meniti sedikit demi sedikit namun all out. Ide mengikuti seleksi beasiswa sudah lama ada pada benak saya. Sejak kuliah di Fakultas Hukum Unhas, terpikir betapa asyiknya melanjutkan studi di luar negeri. Merasakan salju atau melihat rupa bunga sakura, ataupun berkelana ke museum – museum kenamaan di dunia adalah impian saya kala itu. Orangtuaku pun, kerap "menyuruh" saya untuk melamar beasiswa.
Bukan tak mencoba, saya ingat, saya pernah melamar untuk mendapatkan beasiswa dari AUSAID. Namun, saya sendiri tak yakin bisa diterima beasiswa itu. Jelang 1 hari penutupan penerimaan berkas, baru kukirimkan berkas itu. Lebih tak yakin lagi, karena esai yang saya buat saat itu, tidak pernah dievaluasi ahlinya atau istilah lainnya adalah proofreading.
Tak berhasil dapat beasiswa saat kuliah, saya mencoba mencicipi peluang fellowship saat sudah bekerja sebagai jurnalis. Lagi – lagi, saya sendiri tidak percaya diri dengan aplikasi saya saat itu. Tapi, rupanya ada rencana lain yang diciptakan untuk saya. Berikut saya coba deskripsikan sesuai kronologi waktu.

1. Kursus IELTS

"Mau beasiswa ke mana?", adalah pertanyaan di formulir pendaftaran kursus IELTS di IALF. Saya pun menuliskan "Belanda atau UK'. Sejak kuliah, saya ingin sekali melanjutkan studi ke Belanda. Kata orang, tidak ada tempat lain yang paling baik untuk mempelajari bidang hukum selain negeri kincir angin.
Saya mendaftar kursus bersama seorang rekan jurnalis sekantor. Kami bersemangat dan saling mendukung. Kami memilih IALF (Indonesia Australia Languange Foundation) bukan tanpa sebab. Tempat kursus ini direkomendasikan oleh rekan kami di kantor, yang sudah lulus beasiswa Deutsche Welled an saat ini sedang belajar di Bonn, Jerman. Baik saya maupun – sebut saja Ani – mengambil kesempatan untuk kursus persiapan IELTS mumpung ada waktu luang. Mulai Oktober 2014, kami akan disibukkan untuk peliputan pemilu presiden.
Kami mendaftar untuk kursus intensif 5 minggu mulai 2 September hingga 3 Oktober 2014. Bagi saya dan Ani, memilih jadwal kursus ini adalah perjuangan tersendiri. Kami memutar otak agar waktu kursus jam 18.30 – 21.00 tidak bertabrakan dengan jadwal liputan kami. Setelah nego dengan atasan, akhirnya kami meng-custom jadwal liputan. Saya sendiri, memilih dua kali shift subuh dalam sepekan. Luar biasa, kala shift subuh, saya keluar dari rumah pukul 04.30 subuh hari, dan kembali di rumah pukul 22.00 malam hari.
Selain pengaturan waktu, tantangan lainnya tugas. Dua orang guru native kami getol memberi tugas yang mewajibkan kami membuka kembali buku di perpustakaan IALF. Perpustakaan ini tutup pukull 19.00. jadi, sebelum kelas dimulai, kami sudah harus meng-hunting buku yang berkenaan dengan tugas. Beberapa kali, saat beruntung, kami bisa lebih cepat tiba di IALF – yang lokasinya bersebelahan dengan Kedubes Australia – untuk bisa membaca buku, mengerjakan tugas, ataupun menonton video tutorial di komputer yang disediakan.
Kelas kami, boleh dibilang semi-privat. Sekelas berisi maksimal 16 orang pelajar. Di kelasku, ada 2 orang jurnalis (Saya dan Ani), 3 orang bekerja di sektor energi, 2 orang di lembaga konsultan, 1 orang di lawfirm, dan sisanya karyawan swasta.
Seingat saya, semua dari kami, berniat mendapat skor IELTS yang mantap sebagai bekal untuk sekolah di luar negeri. 2 orang di antara kami sudah mendapatkan beasiswa LPDP. Mereka hanya perlu memantapkan skor IELTS agar bisa diterima di universitas yang mereka tuju. Saya sendiri? Sejujurnya masih belum mantap untuk mengambil beasiswa. Motivasi saya saat itu, adalah mendapatkan skor IELTS – selagi sempat – sebagai model untuk mengajukan beasiswa, tapi nanti.
Setiap kali rekan sekelas berbincang tentang beasiswa, atau perguruan tinggi di luar negeri, saya tidak antusias. Karena saya tidak tahu sebanyak yang rekan – rekan saya tahu. Namun, semua ini berubah di hari – hari terakhir kami menjalani kursus. Pembicaraan beasiswa semakin getol di tiap kesempatan. Di ruang makan, di perpustakaan, bahkan di dalam kelas, sebelum jam menunjukkan pukul 18.30.
Suatu waktu, pulang dari tempat les, saya mulai membuka – buka website beasiswa LPDP, dan membuka – buka nama kampus termashyur di Inggris.
Tepat di hari ulang tahun saya, 3 Oktober, kursus IELTS berakhir. Kamipun mengadakan "perpisahan" di Burger King Plaza Festifal, Kuningan, Jakarta Selatan. Kami berjanji tetap saling kontak. Sampai sekarangpun, grup whatsapp kami tetap aktif dengan saya sebagai admin-nya. Grup whatsapp itu kami namakan "IALF – Band 7". Sebuah harapan agar kami semua lulus tes IELTS dengan band atau skor 7.0.

2. Mendaftar beasiswa LPDP

Sepekan terakhir kursus IELTS, kami sering bertanya ke Lutfhan dan Shintya yang sudah diterima beasiswa LPDP. Untuk informasi selanjutnya, sayapun getol membuka website LPDP. Deadline pendaftaran untuk periode terakhir di tahun 2014 adalah 21 November. Salah satu syaratnya adalah menyetorkan hasil IELTS dengan skor minimum 6.5. Beberapa hari setelah kursus IELTS berakhir, sayapun mendaftar tes IELTS di IDP Pondok Indah.
Jam beberapa menit lagi menunjukkan pukul 9 pagi, tapi saya sudah tiba di kantor IDP. Saya ingat, saat itu, ibu saya ikut menemani dan membayarkan biaya tes sebesar 2,4 juta rupiah. Usai foto dan scan sidik jari, saya pun mengantongi bukti pembayaran untuk dibawa pada hari tes, 18 Oktober 2014.
Untuk memilih hari tes itu, saya sebelumnya sudah mengatur jadwal kerja. Maklum, sabtu – minggu bukanlah libur yang common di pekerjaan saya. Jam 7 pagi, saya sudah tiba di Sekolah Raffles untuk menjalani tes. Listening, Reading, dan Writing saya jalani dengan lancar. Sekitar jam 12 siang, peserta tes diberi jadwal ujian Speaking. Untunglah jadwalku tak terlalu sore. Jam setengah 3 adalah giliranku. Saatnya berpindah dari Sekolah Raffles menuju ke kantor IDP Pondok Indah.
Saya sebenarnya agak takjub dengan jumlah peserta tes IELTS. Saya membatin, begitu banyak orang dengan tujuan sama denganku. Mereka tidak bisa dibilang saingan secara langsung. Tapi sekali lagi, saya tidak menyangka peserta tes akan sebanyak ini. Soalnya, setiap bulan, IDP melaksanakan 4 hingga 5 kali tes IELTS. Sementara cabang IDP sendiri bukan hanya di Pondok Indah.
Sembari menanti skor IELTS, sayapun mengurus keperluan pendaftraran beasiswa. Awalnya, saya membuat akun di website LPDP. Di akun ini, saya mengisi data diri, dan mengunggah dokumen yang dibutuhkan. Semua progres di akun kita bisa di-save dan baru di-submit¬ setelah semuanya lengkap.
Pengisian data diri awalnya saya anggap adalah bagian termudah. Namun saya salah besar. Saya harus kembali membuka map tebal saya yang berisi berbagai sertifikat seminar maupun sertifikat prestasi. Lalu, saya beberapa kali menyocokkan data KTP, dan ijasah serta transkrip nilai. Setelah lengkap, tiba saatnya mengunggah dokumen – dokumen itu. Berhubung saat itu saya belum punya scanner seluruh dokumen ini saya "eksekusi" lewat scanner di kantor, hehee.
Sembari menjalani proses melengkapi unggahan dokumen, saya juga mulai menyicil 3 esai. Untunglah semua esai dibuat dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa kali saya mengecek kembali isi esai sebelum memastikan esai ini bisa diunggah.
Tantangan yang tidak bisa dianggap remeh juga, adalah mencari surat rekomendasi dan surat izin atasan. Untuk mengatasi ini, sejak mengikuti kursus IELTS, saya sudah menghadap atasan saya. Saya menjelaskan keinginan melanjutkan studi, dan memberi sedikit proyeksi kapan saya harus "meninggalkan" kantor jika saya diterima. Untunglah semua atasan saya merespon positif. Surat izin atasan saya langsung ditandatangani oleh pemimpin redaksi (terimakasih untuk Ibu Rosianna Silalahi). Tak hanya itu, saya juga mendapatkan surat rekomendasi dari Wakil Pimimpin Redaksi Mas Yogi Nugraha (terimakasih pula untuk Mas Yogi).
Surat rekomendasi saya yang kedua juga tak kalah menantangnya untuk didapatkan. Rekomendasi yang satu ini saya dapatkan dari tokoh masyarakat, bisa dikata salah seorang negarawan tanah air. Saya ingat, seharian menyewa ojek untuk menyetorkan draft rekomendasi kepada sekretaris tokoh ini. Draft saya harus diperbaiki hari itu juga. Di sinilah saya berkenalan dengan Snapy, warung digital yang menyediakan solusi untuk scan, print, dan ketik dokumen. Sudah selesai? Belum. Saya masih harus dijadwalkan untuk bertemu langsung dengan sang tokoh untuk menjelaskan maksud saya, dan menyodorkan draf surat rekomendasi. Seingat saya, proses ini semua memakan waktu seminggu. Dengan semua peluh, dan dengan jantung yang berlomba karena semua saya lakukan sembari bekerja seperti biasa.
Huh hah.. akhirnya semua dokumen saya lengkap. Seluruh aplikasi LPDP saya setorkan 1 minggu sebelum waktu deadline sebenarnya tiba. Inilah yang saya selalu bagi kepada teman – teman saya yang ingin mendaftar LPDP. Buatlah deadline pribadi sebelum deadline yang sesungguhnya. Niscaya, tindakan ini akan banyak manfaatnya.

3. Mencari dan Mendaftar Universitas

Berkat teman di tempat kurus IELTS, saya mengenal IDP. Saat berkuliah di Makassar, saya sudah sering mendengar IDP. Bahkan saat SMA, saya pernah mengikuti pameran pendidikan luar negeri yang diselenggarakan IDP Makassar. Namun, saya benar – benar baru tahu, IDP bisa membantu aplikasi kita ke berbagai universitas ternama di luar negeri.
Saat proses mendaftar beasiswa LPDP inilah, tepatnya bulan Oktober 2014, saya bertandang ke kantor IDP di Kuningan, Jakarta Selatan. Saya memanfaatkan libur di hari kerja untuk bertemu salah satu konselor senior IDP. Tak perlu antre, sang konselor sangat ramah dan membantu. Saya menceritakan, bahwa saya ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. UK adalah negara yang akan saya tuju, karena masa studi S2 di sana hanya 1 tahun. Lalu, saya adalah sarjana hukum, namun ingin melanjutkan studi di bidang media. Bekerja di media membuat saya menemukan passion saya di bidang ini.
Sang konselor mendengarkan, dan langsung menyebut 1 universitas; Cardiff University. Setelah sepakat dan memilih jurusan, saya mengirimkan file dokumen seperti ijasah dan transkrip nilai yang asli dan translated, halaman pertama paspor, serta esai atau motivation letter. Skor IELTS boleh menyusul karena saya baru akan tes pada 18 Oktober 2014.
Dua pekan lebih setelah aplikasi saya diterima Cardiff University, saya pun mendapatkan Letter of Acceptance Conditional. Bahagianya bukan main saat itu. Saya bisa melangkahkan kaki ke kampus yang terletak di Wales itu, jika IELTS saya mencapai skor 7.0. Rajin saya meminta kepada Allah SWT agar skor saya sesuai syarat dari Cardiff.
Sembari menunggu dan mengumpulkan dokumen syarat beasiswa LPDP, sayapun rajin berkunjung ke website Cardiff. Saya juga melihat – lihat website kampus lain yang sering saya dengar. Seperti University of Manchester, University of Leeds, University of Liverpool. Website di universitas – universitas ternama ini selalu menyediakan informasi yang lengkap bagi para pelamar. List program studi A-Z tersedia di website dengan penjelasan yang memadai. Umumnya, website sudah menyediakan modul apa yang akan kita pelajari, persyaratan, hingga profil lulusan. Terbayang oleh saya, begitu lebar jarak antara kampus – kampus dengan luar negeri yang ada di Indonesia. Mengingat saya belum pernah menemukan website kampus di Indonesia yang sangat informatif dan mudah layanan antarmuka (interface)nya sebagaimana dipunyai universitas – universitas di Inggris Raya.

4. Lolos Seleksi Administrasi

Perhatianku teralih dari urusan beasiswa. Setelah beres mengirimkan lamaran ke LPDP, saya kembali tenggelam ke pekerjaan. Kantorku kedatangan bos baru. Berbagai perubahan membuat kami excited dan berusaha menampilkan performa terbaik. Selain itu, saya dan keluarga akan berlibur untuk tahun baru di Singapura. Ini momen spesial, karena adik laki – laki akan bergabung setelah menjalani semester pertamanya di sebuah kampus di Kuala Lumpur.


Lalu, pada 25 atau 26 November 2014, seorang kawan dari Makassar mengirimkan pesan di Line. "Selamat Okky, lulus beasiswa LPDP". Astaga, hari ini adalah hari pengumuman, dan saya lupa. Lalu menyusul pesan dari rekan saya melalui grup IALF. Sebelumnya, pada 24 November malam, saya mendapatkan SMS dari LPDP bahwa pengumuman hasil seleksi sudah diumumkan di website. Sejurus kemudian, link website LPDP di SMS tersebut saya klik. Namun, mungkin server sibuk. Akhirnya, saya melanjutkan menyetir mobil pulang ke rumah, dan lupa mengecek website LPDP lagi keesokan harinya.

27 November 2014, saya menerima email berisi daftar peserta dan jadwal seleksi wawancara. Saya kebagian wawancara tanggal 12 – 13 Desember 2014. Waktunya mengurus cuti kerja.

Here comes the next step.



(bersambung...)