Showing posts with label citizen journalizm. Show all posts
Showing posts with label citizen journalizm. Show all posts

Monday, December 3, 2012

Travel Review: (Ter)pesona Lakkang

Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, Makassar adalah tempat yang benar - benar unik. Untuk ke sana, hanya ada satu cara, yakni menumpang moda transportasi air. Setiba di Lakkang, suasananya sangat beda. Teman yang pernah saya ajak ke sana sama - sama sepakat bahwa "perasaan" mereka di Lakkang sangat berbeda dengan di Makassar. "Seperti bukan di Makassar" begitu kira - kira.

Padahal, Lakkang terletak di tengah kota Makassar. Sebelah utara berbatasan dengan daerah belakang kampus Unhas; sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Tallo; sebelah barat berbatasan dengan belakang kantor gubernur Sulawesi Selatan; dan sebelah timur berbatasan dengan Jalan Tol Reformasi.

Panorama sungai Tallo adalah salah satu jualan Lakkang. Selain itu, di bagian tengah delta Sungai Tallo ini, terdapat pohon bambu yang sangat rimbun. Di titik inilah terdapat situs sejarah Bunker buatan Jepang. Bunker di Lakkang jumlahnya ada 7 buah, namun yang bisa diidentifikasi hanya 5 buah bunker.

Dermaga Lakkang, sumbangan Bank Mandiri

Hutan bambu di tengah Lakkang. Dari kiri: Ika, Upi, Indra, Arief, Asdar, Afif.

Bercengkerama dengan 2 gadis kecil di Lakkang. 
Kata mereka "kuku ala Syahrini".

Perjalanan pulang ke Dermaga Kera - Kera. 
Sekali naik perahu tarifnya Rp 2.000,-. 
Motor juga bisa diangkut, tapi tarifnya RP 5.000,-.

Wednesday, September 19, 2012

Nol Terus

Lampu lalu lintas atau traffic light di bawah jembatan Panakkukang Trade Center sepertinya 'ngambek'. Indikator waktu yang muncul pada layar berhenti di angka "0". Meski indikator waktu sudah menunjuk "0", namun lampu hijau tak kunjung menyala. Berhenti di Nol ini terjadi sekitar 10 detik. 

Photo by: Okky Irmanita
Monday, 18th of September 2012
Edited with instagram.
Follow my instagram: okkyirmanita



Pettarani dari Jembatan Penyeberangan

Ramayana, Jalan AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan. Jalanan masih lengang. Mendekati Pukul 17.00 Wita, barulah ruas jalan di titik ini padat sepadat-padatnya. 

Photo by: Sri Rahayu
Taken with new ipad
Tuesday, 19th of September 
Edited with instagram

The Only Giant

The only giant yang saya maksud adalah truk kontainer berwarna merah dan berpunggung biru pada foto di atas. Jalanan Makassar tumbuh pesat. Sejak dimulai pelebaran pada tahun 2011 lalu, Jalan AP Pettarani pada foto di atas kini terdiri dari 4 lajur dan 2 jalur. Aspalnya mulus. Jika rencana Dinas PU berjalan lancar, awal tahun 2013 nanti Jalan AP Pettarani akan selesai pengerjaannya, dan menghubungkan Jalan Sultan Alauddin di selatan kota, hingga fly over menuju bandara internasional Sultan Hasanuddin. 

Foto by: Sri Rahayu
Taken with new ipad
Tuesday, 19th of September

Sunday, July 1, 2012

Sudut Losari di Awal Juli

1 Juli 2012. Yah, hari ini, adalah hari pertama di bulan Juli. Lebih sebulan dari pertengahan tahun 2012. Saya masih di Makassar. Di Kota yang sama, yang terkenal dengan Pisang Epe dan Pantai Losari. Losari sudah beberapa kali berubah wajah. Tahun 2008, anjungan Losari memperluas areanya, dengan beberapa reklamasi. Renovasi 2008 inilah yang membuat tiga buah layar, dan teks moderen "PANTAI LOSARI", menjadi icon dari pantai yang sama sekali tidak berpasir ini.

Inilah potret sudut Losari di suatu sore di awal Juli.


Makassar punya beberapa proyek prestisius beberapa tahun terakhir. Biasanya proyek tersebut minim area hijau. Maklum, bibit pohon yang ditanam masih bayi. Nah, foto di samping adalah bukti revitalisasi Losari yang menghasilkan daun - daun hijau yang mulai lebat. Pohon - pohon palem di area Anjungan Losari sudah mulai meninggi. Serasi dengan lantai berbunga dan berwarna lembut.



Sudah 5 tahun sejak revitalisasi Losari. Dan kini, giliran pemerintah Provinsi Sulsel yang punya proyek. Proyek ini dikenal nama Center Point of Indonesia alias CPI. Dikatakan Center Point, karena konon, titik tengah pertemuan lintang dan bujur di Indonesia ada di Makassar. Dan lokasi tersebut, diperkirakan berada di sebelah utara pantai Losari Makassar. di CPI ini, nantinya ada Wisma Negara, semacam "cabang" dari Istana Negara. Juga untuk peristirahatan orang nomor 1 di Indonesia. Selain wisma negara, di CPI juga ada Masjid Terapung yang katanya pertama di Indonesia. Masjid inilah yang dalam foto di atas, memiliki kubah warna biru. Disainnya moderen dan futuristik. Dari Anjungan Losari, Masjid Terapung ini tampak diapit menara pintu masuk kawasan Tanjung Bunga (kubah kiri), dan Gedung baru rumah sakit bertaraf internasional, RS Siloam (sebelah kanan).

 Pantai Losari, selain menyimpan hiruk pikuk modernitas, dan berbagai gedung - gedung komersil di sekitarnya, juga menyimpan simbol ekonomi kelas bawah. Misalnya foto di samping. Di pusat keramaian di Indonesia, selain pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman, tak pernah ketinggalan, penjual mainan. Bersiaga menarik perhatian anak - anak yang merengek pada orang tuanya. Untuk selembar Upin & Ipin, atau untuk Spongebob yang bersuara monophonik.

Dari sebuah sudut pantai Losari juga, terlihat seorang pejuang nafkah keluarga. Bapak itu masih terus mendayung di atas perahu kuningnya. Mencari hasil alam yang sembunyi di balik air laut warna kelabu. Di tengah hingar bingar pembangunan yang progresif, melupakan orang - orang seperti Bapak di atas sampan ini, adalah ancaman yang bisa jadi bumerang. Makassar dan Sulawesi Selatan akan menyambut pemilu Gubernur 2013 nanti. Papan catur politik segera digelar. Dan sudut Pantai Losari, masih akan tetap menjadi saksi.

Tuesday, June 19, 2012

Travel Review: Wisata Berkuda di Malino

Kuda adalah salah satu hewan mamahbiak yang familiar bagi manusia. Kuda dahulu banyak dimanfaatkan tenaganya untuk mengangkut orang dan barang ke tempat - tempat jauh, dan medan yang sulit.
Kali ini, tempat berkuda yang akan saya bahas, adalah di Kecamatan Malino, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Malino bisa diakses kurang lebih 4 jam jalan darat dari pusat Kota Makassar. Letak Malino tidak terlampau jauh dari Makassar, hanya sekitar 85 km. Namun, medan tempuh yang berkelok dan banyaknya jalan yang rusak, membuat perjalanan ke sana semakin makan waktu.

Sekitar 1km dari pusat keramaian Malino, kita bisa menemukan Lapangan Tembak, yang dipenuhi pohon pinus raksasa. Tempat ini dinamakan Lapangan Tembak, karena biasa dimanfaatkan oleh pihak militer, untuk simulasi adu tembak. Lapangan Tembak ini konturnya seperti bukit, dan tanahnya tidak rata, serta dipenuhi oleh akar - akar pinus yang menjalar. Untuk masuk ke lapangan tembak ini, dikenakan biaya per orang. Saya agak lupa berapa HTMnya, tapi pastinya, kurang dari Rp 5000,- per orang.

Nah, dari pintu masuk ini, sudah ada beberapa kaum adam, yang berdiri di samping hewan berkaki empat ini. Mereka adalah pemilik sekaligus penjaja jasa naik kuda di kawasan ini. Tarifnya sangat terjangkau. Cukup Rp 10.000, Anda bisa diajak kelilling naik kuda di Lapangan Tembak ini.

Sensasi naik kuda ini patut dicoba. Otot - otot kuda yang mengendur dan menegang, dapat dirasakan ketika kita duduk di atas pelana tradisional buatan para bapak penjaja kuda ini. Selain itu, suhu tubuh dari kuda, juga terasa amat hangat.

Saya sendiri agak deg - degan ketika kuda mulai menanjak, atau melakukan lompatan kecil di jalanan yang patah karena akar pinus yang menjalar. Meski sedikit tegang, namun udara sejuk Malino cukup menenangkan jiwa dan membuat kita kembali semangat dan percaya diri menaiki kuda. Kuda yang disewakan di Lapangan Tembak Malino ini, adalah peranakan asli kuda Gowa. Meski di Sulawesi Selatan, ada beberapa daerah yang identik dengan kuda. yakni Takalar dan Jeneponto.

Seluruh Kuda yang dijajakan adalah jantan. Meski begitu, kita tidak perlu khawatir, karena semua kuda sudah jinak. Menurut Dg. Baso, salah satu penjaja kuda, ketika berumur kurang dari satu tahun, kuda - kuda ini sudah dilatih untuk akrab dengan manusia. Jadi tidak perlu khawatir kuda akan mengamuk atau tiba - tiba berlari kencang seperti di film - film action.


Sekian dulu travel review dari Kecamatan Malino, yang saya kunjungi hari Kamis, 14 juni 2012.






Tuesday, June 12, 2012

Travel Review: Bislab Maros

Jika ditotal, sudah lebih dari 10 tahun saya menghabiskan umur di Makassar. Tapi, saya belum pernah menginjakkan kaki di tempat yang orang sebut dengan Bislab. Bislab adalah akronim dari Bisseang Labboro, suatu spot di Kabupaten Maros. Maros adalah tetangga Kota Makassar. Akses ke pusat kota Maros hanya 30 menit dari Bandara Hasanuddin.

Setelah ada Maros Waterpark, lebih mudah menemukan Bislab. Pintu masuknya tepat di seberang Maros Waterpark. Tidak ada petunjuk jalan, tidak ada gapura, yang jelas, sekitar 200 meter dari jalan poros, ada sebuah bangunan tak terawat. Bangunan ini tempat "penjaga" Bislab. Dan tiap pengunjung ditarik Rp 2.500 per orang untuk biaya pemeliharaan.

Bislab menjanjikan pemandangan sungai berbatu, dengan alam yang masih asri. Sepanjang jalan menuju sungai yang pemandangannya bagus, jalan aksesnya sungguh sangat becek. Makin jauh dari jalan poros, makin sulit menemukan sinar matahari. Itu pula sebabnya, semakin licin jalanan, dan semakin kita harus berhati - hati.

Sesekali di tengah jalan, kami berpapasan dengan orang - orang usia 30-an, memegang jaring berwarna merah. Mereka adalah pemburu kupu - kupu. Daerah Maros, khususnya di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, dikenal sebagai lokasi yang banyak dihinggapi hewan yang punya sayap cantik ini.

sepanjang jalan di Bislab
Nah, hampir 2 kilometer jalan kaki di medan berbatu, kami disuguhi pemandangan yang sungguh breathtaking. Gemercik air, keteduhan yang hijau, dan juga aliran yang jernih menyeruak di sekeliling kami. Tapi, ada challenge yang seketika kami hadapi. Untuk menyeberang ke sungai yang lebih bagus pemandangannya, kami harus meniti 3 batang pohon, yang berada di ketinggian sekitar 10 meter. Di bawahnya tidak ada matras, dan tidak ada tali pengaman untuk kami.

Ini dia jembatan mengerikan menuju pemandangan mengesankan
Finally, kami bisa istirahat, sekaligus mengambil gambar dengan riang gembira. Hasil fotonya sudah saya edit, dengan bantuan color efex pro 3.0.

Model: Gitamy Ningrum

Model (ki - ka): Melki Loken, Gitamy Ningrum, Nurul Ulfah
Model (ki -ka): Okky, Gitamy, Nurul, Melki
Oke, selesai sudah foto dipamerkan. Tips bagi Anda yang tertarik ke Bislab:
- Siapkan air minum
- Siapkan Tisu / handuk kecil
- Pastikan Anda sudah ke toilet
- Siapkan kamera, baterai, memory, dll
- Pastikan Anda dalam mood yang bagus.

Sekian dulu travel review Edisi Bisseang Labboro, Maros, Sulawesi Selatan. :)

Travel Review: Bugis Waterpark

Sejak soft launching akhir Maret 2012 lalu, Bugis Waterpark ramai menjadi perbincangan. Warga Sulsel sudah sangat ngidami dengan wahana rekreasi baru di kota ini. Pantai Losari yang menjadi landmark rupanya kurang cukup menjadi alternatif tempat hiburan untuk melepas penat.

Nah, PT Kalla Inti Karsa melalui proyek Kalla Hospitality, lantas membangun arena taman air di lahan seluas 4 hektar. Lokasinya di tengah permukiman elit, Perumahan Bukit Baruga, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.

Disain pintu masuk dari Bugis Waterpark (BW) ini sangat unik. Kesan bambu - bambu cokelat muda sangat mencuat. Juga, ada rangka kapal Phinisi yang belum jadi di atas pintu masuk.

Pintu Masuk Bugis Waterpark
Menurut General Manager BM, ada 10 wahana air di tempat ini. Seluruhnya menggunakan material impor. Sebelumnya, di Kabupaten Maros, tak jauh dari Makassar, ada pula wahana air serupa, yang diberi nama Maros Waterpark. Namun, di BM, bahan fiber yang digunakan adalah yang terbaik. Diimpor langsung dari Turki.

Material diimpor dari Turki. Luncuran ini memiliki tinggi 15 meter
Selain itu, ada lagi hal baru di arena rekreasi ini yang tidak dimiliki tempat wisata lain. Pengelola menyiapkan lifeguard. Para lifeguard ini dilatih langsung oleh Korps Marinir dari Surabaya. Mereka akan siaga di sekitar kolam. Selain alasan keselamatan, lifeguard ini juga sebagai ajang pembelajaran kepada masyarakat untuk bisa berdisiplin, taat antri, dan menjaga kebersihan.

Seorang lifeguard bersiaga di depan moncong luncuran
"Isi" dari Bugis Waterpark ini juga sangat berkelas, dan menjanjikan keamanan buat Anda. Sangatlah worth it untuk menghabiskan waktu di tempat ini bersama keluarga maupun kolega. Tiket masuknya pun juga tidak terlalu mahal. Antara 75.000 - 150.000 rupiah per orang. Jangan datang di hari Senin ya, sebab saat Senin tiba, para kru terlibat maintenance di seluruh area BM.

Tulisan ini saya tutup dengan gambar pasangan yang kebelet pipis. hehehe.. Awas kebelet ke Bugis Waterpark!


Sunday, April 8, 2012

South Celebes Banjir Jip

Ini foto - foto yang sempat ditangkap selama liputan South Celebes Banjir Jip. Benar - benar banjir jip dan banjir debu pastinya. hehehe...
Ini waktu START dari halaman Stadion Andi Matalatta. Acara ini dibuka resmi oleh Walikota Makassar

South Celebes Banjir Jip dimulai tanggal 6 April 2012 dan berakhir Minggu 8 April 2012. Kegiatan dipusatkan di depan Mal GTC, kawasan Tanjung Bunga Makassar.

Nah, ini kameramen yang mencoba eksis dalam ajang ini. Meski venue berdebu, doi tetap semangat mangap - mangap sambil action

Event ini sangat menarik antusiasme masyarakat Sulsel. Menurut panitia, jumlah jip yang teregistrasi mencapai 700 unit!. W - O - W ...!. 

yang baju hitam itu juga adalah wartawan yang mencoba eksis. Tapi tak apalah, meski lebih kecil daripada Jip, yang jelas event ini disupport oleh media. Jadi banjirnya bisa diekspos. 
Peserta juga tak mau kalah eksis dong. Mereka ini adalah beberapa orang yang tergabung dalam Boots Jip Community. Ibu - Ibu cantik juga tergabung dalam komunitas ini. Cewe bisa tonji gang ..!

Oke, itu dulu yang bisa kami laporkan dari lokasi South Celebes Banjir Jip. Hari ini, kembali turun liputan untuk event ini. Nantikan saja foto selanjutnya. Saya Okky Irmanita melaporkan dari Makassar.

Sunday, March 11, 2012

Mie Pangsit Lagaligo

Lagaligo adalah nama salah satu ruas jalan, tidak jauh dari Pantai Losari Makassar. Kios lagaligo ini punya disain interior yang bagus, dan makanan yang enak tentunya. Nah, mie pangsit lagaligo juga bisa dinikmati di Mal luxurious di Makassar, yakni Trans Mal. Tapi, Kios Lagaligo tidak punya gerai tersendiri, melainkan membuka gerai di Food Court Mal ini, yang bernama Straight Chicken Food Court. 


Jangan takut, kelezatan Mie Pangsit Lagaligo di kios aslinya, tetap sama dengan kelezatan Mie Pangsit di Gerai Food Court Trans Studio Mal (TSM) ini. Urusan harga, memang yang di Food Court TSM lebih mahal, yakni Rp 30.000 per porsi. Sedangkan di kios aslinya, harganya Rp 23.000 per porsi. 

Wednesday, August 20, 2008

kisah kemerdekaan

Minggu, 17-08-2008
Merdeka di Mal, di Garasi hingga di Kampung Orang
:: Tim Panyingkul! ::


Ayo Bu…tarik tambangnya...
Ibu-ibu ikut lomba tarik tambang di Tokyo.
Foto : Lily Yulianti Farid.



Di Balikpapan, ada upacara bendera yang diadakan di pelataran sebuah mal. Cuaca yang kurang bersahabat membuat lomba rakyat digelar di garasi. Di Makassar, seorang warga mengeluhkan kompleks perumahan tempat tinggalnya yang cuek bebek dengan kegiatan HUT Proklamasi. Di Tokyo, ada sedikit inovasi : lomba makan mentimun. Pembaca, bagaimana suasana perayaan Ulangtahun Proklamasi RI ke-63 di tempat Anda? Bagilah di sini, seperti para citizen reporter yang mengabarkan kegiatan dari berbagai kota dan negara berikut ini. (p!)


Sisi lain perayaan HUT Proklamasi diceritakan citizen reporter Okky Nur Irmanita dari Perumahan Bosowa Indah, yang melaporkan suasana tempat tinggalnya sepi tanpa pesta rakyat. “Seperti tidak ada kehidupan. Di sore hari hanya ada beberapa bocah bermain futsal di badan jalan, yang sudah merupakan rutinitas tiap sore. Di sini tidak ada yang mengkoordinir lomba, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Mengumpulkan warga susahnya minta ampun!”

Sehari sebelumnya, mahasiswi Fakultas Hukum Unhas ini menumpahkan uneg-uneg tentang makna peringatan ulangtahun kemerdekaan, yang katanya: “Kok tidak menggetarkan ya? Apa boleh buat, semangat nasionalisme saya dan anak-anak muda lainnya mulai memudar, ya? Cari bendera di rumah saja untuk dikibarkan, malasnya minta ampun.. ”

Refleksi dari Iran
Sementara itu dari Iran ada pertanyaan unik: pohon pinang itu seperti apa sih bentuknya? Pertanyaan ini mengusik benak citizen reporter Ismail Amin yang kali ini merayakan HUT Proklamasi di Qom. Ia menulis renungan singkat, semacam nostalgia. Dan ini yang membuatnya tersentak, sewaktu di tanah air, ia tidak begitu mempersoalkan lomba panjat pinang di kampugnya selalu menggunakan tiang listrik yang sudah tidak digunakan. Nantilah setelah ia jauh, barangkali didorong perasaan sentimental, ia mengais-ngais ingatannya: eh, pohon pinang itu yang mana ya?


Mahasiswa Indonesia merayakan kemerdekaan di KBRI Teheran di Iran.
Foto : Dokumentasi Ismail Amin.


Ismail Amin menulis, “Sewaktu masih SD, bulan Agustus adalah bulan yang saya tunggu-tunggu selain bulan Ramadan dan lebaran. Bulan yang penuh kenangan. Masih teringat dipelupuk mata sepekan sebelum 17 Agustus, saya dengan teman-teman sepermainan disibukkan dengan lomba-lomba dan pesta rakyat. Meski tidak terlibat dalam setiap perlombaan saya pun merasakan kegembiraan yang meluap-luap, menyoraki teman-teman yang sedang lomba balap karung., menonton bapak-bapak yang sedang bertanding bola dengan mengenakan daster atau melihat ibu-ibu bermain bola voli. Belum lagi panjat pinang yang telah menjadi ikon dari tradisi peringatan 17 Agustus, benar-benar sangat mendebarkan sekaligus menggelikan melihat mereka berpayah-payahan sekedar untuk memperebutkan payung, sebungkus biskuit dan baju kaos yang dipasang dipuncak tiang (tiang listrik bekas digunakan sebagai pengganti batang pinang, sampai sekarang saya juga belum pernah melihat pohon pinang seperti apa).”

“Saya tidak bisa terlibat langsung, karena saya punya kesibukan lain. Saya harus berjalan mengelilingi lapangan menonton setiap perlombaan sambil menenteng termos es. Ya, saya berkeliling menjual es lilin. Menyenangkannya karena selama satu pekan es saya laris manis. Sama halnya dengan petani yang panen besar, bagi pedagang keliling, terutama pedagang makanan di pesta agustusan, juga adalah masa panen raya. Tidak usah banyak bergerak, pembeli berdatangan.”

“Namun paradigma saya sedikit bergeser mengenai Agustusan yang penuh luapan kegembiraan, setelah saya meninggalkan kampung, dan kuliah di kota besar. Kerja-kerja intelektual yang saya geluti membuatk saya sedikit tahu keadaan bangsa ini. Banyak hal yang harus dibenahi dari bangsa ini. Sebab semuanya juga mengakui ada yang salah dari negeri ini. Terutama ketika saya harus meninggalkan tanah air dan berada di luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Di negeri orang, saya merasakan pemerintahnya benar-benar ada. Di Indonesia, hampir semua hal diurus dan diatur sendiri. Untuk peringatan 17 Agustus masyakat sendiri yang berinisiatif untuk memeriahkannya dan biaya ditanggung sepenuhnya masyarakat yang bergotong royong menyumbang uang. Berbeda ditempat saya sekarang berada, saya masih ingat bendera dan umbul-umbul yang dipasang sepanjang jalan dan perumahan penduduk semuanya dipasang dan ditanggung pemerintah.”

“Bahkan di hari H, tanggal 14 Februari setiap tahunnya saat rakyat Iran merayakan kemenangan revolusi Islam Iran masyarakat tinggal mengambil bendera kecil, poster-poster, spanduk, balon-balon berwarna bendera nasional mereka di kantor-kantor pemerintah untuk kemudian bersama-sama turun ke jalan. Semuanya ditanggung dan diusahakan pemerintah. Ratusan bus dioperasikan untuk mengangkut masyarakat dari pedesaan untuk bersama-sama merayakan hari kemenangan di kota-kota besar. Setiap 200 meter ada posko-posko yang menyediakan makanan dan minuman gratis. Belum lagi ritual ziarah ke taman makam pahlawan mereka dan hadiah yang diberikan negara kepada veteran perang dan keluarganya yang juga menghabiskan dana yang tidak sedikit. Mungkin ada yang mengatakan, banyak hal itu diberikan gratis karena warga negaranya membayar pajak. Tetapi rasanya kitapun taat membayar pajak. PBB, iuran televisi, urus izin apa saja (KTP, SIM, izin keramaian) kita bayar. Bahkan parkir dan masuk toilet umum pun ada pajaknya. Ketika merasakan adanya perbedaan ini, saya sadar bahwa ada yang tidak jalan dalam sistem pemerintahan kita. Pemerintah baru muncul saat ada mahasiswa atau buruh yang berdemo, pemerintah baru ada ketika sedang naik haji, atau studi banding ke luar negeri dengan biaya ditanggung negara. Pemerintah baru benar-benar terasa keberadaannya ketika mengumumkan kenaikan harga BBM. Benar kan ? Maaf kalau saya sangat subyektif. Tapi ini bukti cinta saya pada tanah air.”

Hormat bendera di Mal


Di mal kita upacara.
Foto : Mustamin al-Mandary.


Dari Balikpapan, citizen reporter Mustamin Al-mandary mengikuti upacara yang tempat pelaksanaannya mencerminkan realitas yang sangat dekat dengan kelas menengah atas: kehidupan yang tak lepas dari mal. Ya, upacara di Mall Fantasi digelar di kota minyak ini.

Suasana agak mendung ketika upacara hendak di mulai. Namun peserta tetap bersemangat, upacara berlangsung khidmat. Upacara di tempat ini dihadiri oleh beberapa komponen masyarakat, dari pegawai developer Sinar Mas yang mengelola mal tersebut, paguyuban, perusahaan servis, dan tentu saja yang tidak kalah penting adalah siswa siswi dan guru-guru dari SMP Katolik Santo Mikail Balikpapan yang menjadi petugas upacara.

Tapi ada yang cukup unik pada perayaan ini. Jika dilihat, mungkin ratusan perserta upacara dari berbagai komponen masyarakat ini 90 persennya adalah etnis Tionghoa. Memang, sebagian besar siswa siswi dan guru di SMP Katolik Santo Mikail adalah anak-anak etnis Tionghoa. Jika dilihat nama-nama yang terdapat di dada baju seragam mereka, bahkan nama-nama asli Tionghoa masih banyak yang bisa ditemukan. Apalagi, upacara ini juga disponsori oleh sebuah paguyuban etnis Tionghoa yang cukup terkenal di Balikpapan, Yayasan Sosial Budi Luhur.


Peserta upacara penuh semangat menghormat bendera.
Foto : Mustamin al-Mandary.


Selepas upacara, gerimis mulai turun. Tapi semua enggan bubar, pesta rakyat siap digelar. Ada senam Taichi, yang lagi lagi khas Tionghoa uga ada atraksi cheerleaders siswi SMP Katolik Santo Mikail.

Yang banyak ditunggu tentu saja dimulainya berbagai lomba. Ada satu lomba unil bernama Naga Nagi. Peserta membentuk kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok ini lalu membentuk barisan menyerupai naga, ada kepala dan ada ekor. Yang bertugas di ekor memegang beberapa balon, lalu naga-naga itu akan berkelahi dengan cara meletuskan balon yang ada di ekor lawan-lawannya. Kelompok yang bisa mempertahankan balon lebih banyak adalah pemenangnya.

Lomba lainnya adalah berjoget berpasangan dengan meletakkan balon di kening. Pasangan ini akan berjoget sepanjang lintasan tertentu, tidak boleh memegang balon dengan tangan, dan balonnya tentu saja tidak boleh jatuh sampai ke garis finish. Dan lomba yang ketiga adalah Gelang Berpindah. Setiap kelompok terdiri dari 10 orang dan mereka harus memindahkan gelang dari satu orang ke orang lainnya tanpa melepaskan pegangan masing-masing.

Acara yang dimeriahkan di tengah-tengah gerimis yang semakin deras ini sangat menarik. Hadiahnya sudah jelas kelas mal! Tidak tanggung-tanggung, panitia sudah menyiapkan hadiah yang juga tidak kalah menggiurkan: satu sepeda motor, satu kulkas, satu TV 21 inchi, dan 10 telepon CDMA. Betul-betul menggiurkan! Karenanya peserta sangat bersemangat mengikuti acara ini. Dan tentu saja, semangat itu lahir dari kegembiraan mereka yang merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta.


Lomba mengisi air perlu hati-hati..
Foto : Muhammad Ruslailang Noertika.


Masih dari kota Balikpapan, citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika mengirim foto-foto suasana lomba yang terpaksa pindah ke garasi warga karena cuaca yang tidak bersahabat. Ini perayaan sekali setahun, kegembiraan ini milik semua bangsa, hujan tidak boleh menjadi penghalang, demikian semangat peserta lomba yang ikut dalam berbagai adu ketangkasan.


Tetap senang meski pindah ke garasi. Merdeka!
Foto : Muhammad Ruslailang Noertika.



Sementara dari Cikarang, citizen reporter Amril Taufik Gobel mengabarkan persiapan lomba di kompleks perumahannya dilakukan utamanya oleh para ibu. Merekalah yang mengatur jadwal bahkan dana untuk membeli hadiah diperoleh dari uang arisan ibu-ibu tersebut. Sebanyak 40 KK di Perumahan Cikarang Baru bersuka cita di jalan, menjadi peserta lomba dan juga jadi tim penyemangat. Yang paling seru adalah lomba sepakbola sarung bapak-bapak yang ditutup dengan aksi gelar tikar dan makan nasi padang di “lapangan” pertandingan.


Hati-hati sarungnya, Pak..
Foto : Dokumentasi Amril T. Gobel.




Lomba makan kerupuk yang jadi nomor favorit anak-anak..
Foto : Amril T. Gobel.


Saudara Tua dan Lomba Makan Mentimun
Di KBRI Tokyo, citizen reporter Lily Yulianti Farid melaporkan, selain upacara bendera seperti biasanya, juga diadakan pemotongan tumpeng yang dikemudian diserahkan oleh Duta Besar Jusuf Anwar kepada orang Jepang tertua yang menjadi sahabat komunitas Indonesia di Tokyo. Mereka adalah Eizaburo Imazawa berusia 94 tahun dan Nobuo Ikegami berusia 89 tahun. Keduanya sangat aktif menghadiri berbagai acara yang berkaitan dengan persahabatan Indonesia – Jepang dan akhir bulan ini akan tampil menyanyikan lagu-lagu Indonesia, termasuk Anging Mammiri.


Saudara tua yang benar-benar tua bersama Dubes RI untuk Jepang, Jusuf Anwar.
Foto : Lily Yulianti Farid.




Lomba makan mentimun. Inovasi atau kekurangan kerupuk?
Foto : Lily Yulianti Farid.


Yang terasa menyenangkan dalam peringatan HUT Proklamasi kali ini di Tokyo karena cuaca musim panas yang bersahabat sepanjang siang, dengan langit mendung dan sejuk. Lomba yang digelar pun tak ada bedanya dengan yang diadakan di tanah air. Meski ada pengecualian, bahwa kali ini ada lomba makan mentimun. Wah… mentimun jepang yang hijau lonjong itu jelas lebih sulit dimamah dibandingkan kerupuk.

Nah, pembaca bagaimana peringatan HUT Proklamasi di tempat Anda? Bagilah di Panyingkul! (p!)