Showing posts with label CANON EOS. Show all posts
Showing posts with label CANON EOS. Show all posts

Thursday, December 6, 2012

Senja Berkelok dan Eceng Gondok

Taken by Canon EOS 1000D f/4 1/15sec ISO800    

Anak muda perkotaan masa kini semakin keranjingan memotret senja atau sunset. Lokasi favorit untuk memotret senja adalah di pantai. Untuk anak muda Makassar, senja di Pantai Losari masih 'tidak ada habisnya' untuk dikutip. Kali ini, saya memotret senja di kelokan kanal di kawasan bisnis dan residensial, Panakukkang, Kota Makassar.

Senja itu berwarna oranye. Dipotret sesaat sebelum azan maghrib sekitar Pukul 18.20 WITA. Refleksi senja tersebut jatuh di permukaan air yang sesungguhnya tidak jernih. Warna air kanal seperti kelabu berjumpa dengan cokelat tua.

Di permukaan kanal, terlihat tumpukan eceng gondok yang mengular. Eceng gondok ini tampak rimbun dan seakan menyatu dengan pohon - pohon lainnya di pinggir kanal. Pemandangan eceng gondok yang tertumpuk di kanal - kanal di Kota Makassar bukanlah hal baru. Ruas - ruas kanal seakan sudah menjadi ladang eceng gondok.

Waktu SMA, saya pernah belajar biologi yang menjelaskan korelasi antara Eceng Gondok dan pencemaran lingkungan. Idealnya, kanal - kanal ini dihuni oleh biota air, termasuk makhluk hidup sangat kecil yang dapat mengurai senyawa organik. Dikatakan ketika pelajaran biologi tersebut, banyaknya Eceng Gondok adalah pertanda tingginya angka BOD (Biological Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen makhluk hidup. Berarti pula, di perairan tersebut, oksigen sulit didapatkan untuk mengurai senyawa organik. Akhirnya, makhluk hidup seperti ikan, tidak mampu beradaptasi. Sementara itu, Eceng Gondok semakin merajai perairan, dan semakin menutup kesempatan makhluk hidup di bawahnya untuk berfotosintesis.

Singkatnya, semakin banyak Eceng Gondok, maka semakin tinggi potensi pencemaran perairan. Apalah arti senja yang indah jika kestabilan lingkungan semakin rendah.

Makassar, 6 November 2012.

Monday, December 3, 2012

Tagline Canon

Tagline atau semboyan menurut saya bukan hanya soal marketing atau taktik penjualan bagi perusahaan. Tagline bisa jadi adalah identitas dan spirit sebuah produk. Salah satu tagline produk yang paling saya kagumi disandang oleh "Canon". Canon identik dengan kamera digital, tapi kalau diingat - ingat, Canon juga adalah merek printer, scanner, dan mungkin masih ada lagi produk bermerek Canon.

Saya adalah salah satu pengguna kamera DSLR merek Canon. Di dunia fotografi, terjadi persaingan ketat antara Canon dan Nikon. Sony, yah boleh ikut lah ya.. Beberapa kontak BBM saya yang juga fotografer, bahkan menegaskan mereka pecinta Canon atau Nikon. Yah, karena saya pemakai kamera Canon, maka saya penggemar Canon.

Kembali ke tagline. Canon punya semboyan "Delighting You Always". Frase ini bisa berarti "selalu membuatmu puas (delight = puas)". Atau "selalu mencerahkanmu (de + lights = cahaya/menyala/cerah)". Ini juga bisa berarti bahwa Canon memberi "Sesuatu" untuk "mu". Kata you (kamu) di sini bisa berarti konsumen (pemilik kamera), model, maupun orang secara umum yang melihat hasil jepretan lewat kamera Canon.

Nah, tagline ini juga bisa menjadi penyemangat bagi kita, untuk selalu mencerahkan atau menjadi insan yang berarti bagi orang lain.

Saya + Canon = Delighting You Always. 

Travel Review: Jangan Bosan Naik Kuda

Di bagian lain blog ini, saya sudah pernah menulis serunya naik kuda di Hutan Pinus, Malino, Kabupaten Gowa. Ternyata setelah berkunjung lagi ke Malino, kurang sreg kalau tidak naik kuda lagi. Sekadar pelengkap informasi di artikel sebelumnya, untuk masuk ke area hutan pinus ini, pengunjung harus membayar Rp 2.000,-. Tapi jangan khawatir, harga tiket masuk hanya berlaku untuk dewasa.

Hutan pinus yang berbukit - bukit ini memang cocok untuk naik kuda dengan didampingi jokinya. Sesekali, joki kuda yang sedang free memacu kudanya untuk berlari agak kencang di area bukit. Seru !!. Dan yang pasti, kualitas udara di tempat ini jauh beda di Makassar. Pada momen tertentu, tempat ini akan diselimuti kabut yang menyesap di antara daun - daun pinus yang mirip jarum kecil.

Adik saya dengan latar belakang kabut di depan Pasar Malino, tak jauh dari bukit tempat naik kuda.

Sekali naik kuda, tarifnya Rp 10.000,-

Salah satu pinus ditempeli tulisan "Pasalama ki Hutan Ta" (Selamatkan hutan kita).
Sekelompok joki kuda pulang ke rumah selepas mencari nafkah di hutan pinus.

Travel Review: (Ter)pesona Lakkang

Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, Makassar adalah tempat yang benar - benar unik. Untuk ke sana, hanya ada satu cara, yakni menumpang moda transportasi air. Setiba di Lakkang, suasananya sangat beda. Teman yang pernah saya ajak ke sana sama - sama sepakat bahwa "perasaan" mereka di Lakkang sangat berbeda dengan di Makassar. "Seperti bukan di Makassar" begitu kira - kira.

Padahal, Lakkang terletak di tengah kota Makassar. Sebelah utara berbatasan dengan daerah belakang kampus Unhas; sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Tallo; sebelah barat berbatasan dengan belakang kantor gubernur Sulawesi Selatan; dan sebelah timur berbatasan dengan Jalan Tol Reformasi.

Panorama sungai Tallo adalah salah satu jualan Lakkang. Selain itu, di bagian tengah delta Sungai Tallo ini, terdapat pohon bambu yang sangat rimbun. Di titik inilah terdapat situs sejarah Bunker buatan Jepang. Bunker di Lakkang jumlahnya ada 7 buah, namun yang bisa diidentifikasi hanya 5 buah bunker.

Dermaga Lakkang, sumbangan Bank Mandiri

Hutan bambu di tengah Lakkang. Dari kiri: Ika, Upi, Indra, Arief, Asdar, Afif.

Bercengkerama dengan 2 gadis kecil di Lakkang. 
Kata mereka "kuku ala Syahrini".

Perjalanan pulang ke Dermaga Kera - Kera. 
Sekali naik perahu tarifnya Rp 2.000,-. 
Motor juga bisa diangkut, tapi tarifnya RP 5.000,-.

Saturday, August 11, 2012

Ultah ke-5 Dengan Rainbow Cake

Rainbow Cake belakangan jadi tren di Indonesia. Merah Kuning Hijau Biru adalah warna yang melekat pada adonan bolu Rainbow Cake. Belum lagi tambahan krim sebagai perekat masing - masing lapisan dari cake bolunya. Kini, Rainbow Cake memiliki banyak variasi bentuk. Foto di atas adalah Rainbow Cake dengan tambahan buah - buah segar di atasnya.

Ada buah strawberry, melon, jeruk yang semuanya segar, dan menambah semarak tampilan Rainbow Cake. Potongan cokelat di atas buah - buahan, menjadi tempat untuk dituliskannya ucapan selamat.

Kue di atas adalah Rainbow Cake dalam perayaan Ulang Tahun Ke - 5 LP2KI. Pada usia yang masih terbilang muda ini, Lembaga Penalaran dan Penulisan Karya Ilmiah merayakan hari lahir dengan cara bersahaja. Bertempat di Fakultas Hukum Unhas, organisasi yang juga Unit Kegiatan Mahasiswa ini, menyelenggarakan ulang tahun yang dirangkaikan dengan acara buka puasa.

Hadir di sela - sela perayaan, adalah pendiri sekaligus PD 3 Fakultas Hukum Unhas Periode 2006 - 2009 Prof. Farida Patittingi, SH, MH. , dan PD 3 yang saat ini menjabat, Bpk. Romi Librayanto, SH, MH. Hadir pula para alumni Fakultas Hukum yang juga menjadi pendiri LP2KI. Mereka di antaranya, Wardani Rizkianti, S.H., M.Kn, Habibi Kaharuddin, SH, Muh. Solihin SH, dan masih banyak lagi figur lainnya.

Dengan khidmat, seluruh insan yang hadir memanjatkan doa, agar LP2KI dapat lebih jaya, dan menularkan kejayaannya kepada UKM lain, dan juga mengikutkan Fakultas Hukum Unhas dalam kejayaannya.

Selamat Ulang Tahun LP2KI.



Sunday, July 1, 2012

Kopi


Kopi yang sedikit lagi habis pada foto di samping, ditangkap 1 Juli 2012. Bertempat di "ruangan merokok" di Menara Bosowa Lantai 15 Makassar. Fotografer adalah rekan saya, Imran a.k.a Indank Enak. 

Inilah sepertinya judul tulisan tersingkat yang pernah saya posting di blog saya. Kopi. Kopi identik dengan warna hitam. Meski jaman sekarang, kopi juga ada yang warnanya lebih pudar. Sejak kecil, saya tidak akrab dengan kopi. Meski ayah saya minum kopi, tapi beliau jarang melakukannya di rumah.

Beberapa tahun lalu, once in a moment saya intens minum kopi. Tapi kopi mocachino merek Indonesia, yang mereknya digemari anak muda. Tapi kebiasaan itu tidak bertahan lama. Kini, saya sangat jarang mencicipi kopi dan olahannya. Apa lagi kalau bukan karena penyakit. Malang bagi saya, karena harus kenal lebih dekat dengan kopi, setelah 'vonis' penyakit tersebut.

Orang - orang di sekitar saya, yang baru saya kenal setengah tahun terakhir, sangat fanatik kopi. Tua muda, laki - laki perempuan, semua suka menyeruput kopi yang wangi dengan asap mengepul. Sayang, saya hanya bisa mencium aroma, dan melihat air muka mereka yang merasakan nikmatnya kopi. Well, Indonesia juga penghasil kopi, jadi tidak ada salahnya jadi penikmat kopi yang fanatik. Cheers.

Sudut Losari di Awal Juli

1 Juli 2012. Yah, hari ini, adalah hari pertama di bulan Juli. Lebih sebulan dari pertengahan tahun 2012. Saya masih di Makassar. Di Kota yang sama, yang terkenal dengan Pisang Epe dan Pantai Losari. Losari sudah beberapa kali berubah wajah. Tahun 2008, anjungan Losari memperluas areanya, dengan beberapa reklamasi. Renovasi 2008 inilah yang membuat tiga buah layar, dan teks moderen "PANTAI LOSARI", menjadi icon dari pantai yang sama sekali tidak berpasir ini.

Inilah potret sudut Losari di suatu sore di awal Juli.


Makassar punya beberapa proyek prestisius beberapa tahun terakhir. Biasanya proyek tersebut minim area hijau. Maklum, bibit pohon yang ditanam masih bayi. Nah, foto di samping adalah bukti revitalisasi Losari yang menghasilkan daun - daun hijau yang mulai lebat. Pohon - pohon palem di area Anjungan Losari sudah mulai meninggi. Serasi dengan lantai berbunga dan berwarna lembut.



Sudah 5 tahun sejak revitalisasi Losari. Dan kini, giliran pemerintah Provinsi Sulsel yang punya proyek. Proyek ini dikenal nama Center Point of Indonesia alias CPI. Dikatakan Center Point, karena konon, titik tengah pertemuan lintang dan bujur di Indonesia ada di Makassar. Dan lokasi tersebut, diperkirakan berada di sebelah utara pantai Losari Makassar. di CPI ini, nantinya ada Wisma Negara, semacam "cabang" dari Istana Negara. Juga untuk peristirahatan orang nomor 1 di Indonesia. Selain wisma negara, di CPI juga ada Masjid Terapung yang katanya pertama di Indonesia. Masjid inilah yang dalam foto di atas, memiliki kubah warna biru. Disainnya moderen dan futuristik. Dari Anjungan Losari, Masjid Terapung ini tampak diapit menara pintu masuk kawasan Tanjung Bunga (kubah kiri), dan Gedung baru rumah sakit bertaraf internasional, RS Siloam (sebelah kanan).

 Pantai Losari, selain menyimpan hiruk pikuk modernitas, dan berbagai gedung - gedung komersil di sekitarnya, juga menyimpan simbol ekonomi kelas bawah. Misalnya foto di samping. Di pusat keramaian di Indonesia, selain pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman, tak pernah ketinggalan, penjual mainan. Bersiaga menarik perhatian anak - anak yang merengek pada orang tuanya. Untuk selembar Upin & Ipin, atau untuk Spongebob yang bersuara monophonik.

Dari sebuah sudut pantai Losari juga, terlihat seorang pejuang nafkah keluarga. Bapak itu masih terus mendayung di atas perahu kuningnya. Mencari hasil alam yang sembunyi di balik air laut warna kelabu. Di tengah hingar bingar pembangunan yang progresif, melupakan orang - orang seperti Bapak di atas sampan ini, adalah ancaman yang bisa jadi bumerang. Makassar dan Sulawesi Selatan akan menyambut pemilu Gubernur 2013 nanti. Papan catur politik segera digelar. Dan sudut Pantai Losari, masih akan tetap menjadi saksi.

Tuesday, June 19, 2012

Travel Review: Wisata Berkuda di Malino

Kuda adalah salah satu hewan mamahbiak yang familiar bagi manusia. Kuda dahulu banyak dimanfaatkan tenaganya untuk mengangkut orang dan barang ke tempat - tempat jauh, dan medan yang sulit.
Kali ini, tempat berkuda yang akan saya bahas, adalah di Kecamatan Malino, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Malino bisa diakses kurang lebih 4 jam jalan darat dari pusat Kota Makassar. Letak Malino tidak terlampau jauh dari Makassar, hanya sekitar 85 km. Namun, medan tempuh yang berkelok dan banyaknya jalan yang rusak, membuat perjalanan ke sana semakin makan waktu.

Sekitar 1km dari pusat keramaian Malino, kita bisa menemukan Lapangan Tembak, yang dipenuhi pohon pinus raksasa. Tempat ini dinamakan Lapangan Tembak, karena biasa dimanfaatkan oleh pihak militer, untuk simulasi adu tembak. Lapangan Tembak ini konturnya seperti bukit, dan tanahnya tidak rata, serta dipenuhi oleh akar - akar pinus yang menjalar. Untuk masuk ke lapangan tembak ini, dikenakan biaya per orang. Saya agak lupa berapa HTMnya, tapi pastinya, kurang dari Rp 5000,- per orang.

Nah, dari pintu masuk ini, sudah ada beberapa kaum adam, yang berdiri di samping hewan berkaki empat ini. Mereka adalah pemilik sekaligus penjaja jasa naik kuda di kawasan ini. Tarifnya sangat terjangkau. Cukup Rp 10.000, Anda bisa diajak kelilling naik kuda di Lapangan Tembak ini.

Sensasi naik kuda ini patut dicoba. Otot - otot kuda yang mengendur dan menegang, dapat dirasakan ketika kita duduk di atas pelana tradisional buatan para bapak penjaja kuda ini. Selain itu, suhu tubuh dari kuda, juga terasa amat hangat.

Saya sendiri agak deg - degan ketika kuda mulai menanjak, atau melakukan lompatan kecil di jalanan yang patah karena akar pinus yang menjalar. Meski sedikit tegang, namun udara sejuk Malino cukup menenangkan jiwa dan membuat kita kembali semangat dan percaya diri menaiki kuda. Kuda yang disewakan di Lapangan Tembak Malino ini, adalah peranakan asli kuda Gowa. Meski di Sulawesi Selatan, ada beberapa daerah yang identik dengan kuda. yakni Takalar dan Jeneponto.

Seluruh Kuda yang dijajakan adalah jantan. Meski begitu, kita tidak perlu khawatir, karena semua kuda sudah jinak. Menurut Dg. Baso, salah satu penjaja kuda, ketika berumur kurang dari satu tahun, kuda - kuda ini sudah dilatih untuk akrab dengan manusia. Jadi tidak perlu khawatir kuda akan mengamuk atau tiba - tiba berlari kencang seperti di film - film action.


Sekian dulu travel review dari Kecamatan Malino, yang saya kunjungi hari Kamis, 14 juni 2012.






Tuesday, June 12, 2012

Travel Review: Bislab Maros

Jika ditotal, sudah lebih dari 10 tahun saya menghabiskan umur di Makassar. Tapi, saya belum pernah menginjakkan kaki di tempat yang orang sebut dengan Bislab. Bislab adalah akronim dari Bisseang Labboro, suatu spot di Kabupaten Maros. Maros adalah tetangga Kota Makassar. Akses ke pusat kota Maros hanya 30 menit dari Bandara Hasanuddin.

Setelah ada Maros Waterpark, lebih mudah menemukan Bislab. Pintu masuknya tepat di seberang Maros Waterpark. Tidak ada petunjuk jalan, tidak ada gapura, yang jelas, sekitar 200 meter dari jalan poros, ada sebuah bangunan tak terawat. Bangunan ini tempat "penjaga" Bislab. Dan tiap pengunjung ditarik Rp 2.500 per orang untuk biaya pemeliharaan.

Bislab menjanjikan pemandangan sungai berbatu, dengan alam yang masih asri. Sepanjang jalan menuju sungai yang pemandangannya bagus, jalan aksesnya sungguh sangat becek. Makin jauh dari jalan poros, makin sulit menemukan sinar matahari. Itu pula sebabnya, semakin licin jalanan, dan semakin kita harus berhati - hati.

Sesekali di tengah jalan, kami berpapasan dengan orang - orang usia 30-an, memegang jaring berwarna merah. Mereka adalah pemburu kupu - kupu. Daerah Maros, khususnya di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, dikenal sebagai lokasi yang banyak dihinggapi hewan yang punya sayap cantik ini.

sepanjang jalan di Bislab
Nah, hampir 2 kilometer jalan kaki di medan berbatu, kami disuguhi pemandangan yang sungguh breathtaking. Gemercik air, keteduhan yang hijau, dan juga aliran yang jernih menyeruak di sekeliling kami. Tapi, ada challenge yang seketika kami hadapi. Untuk menyeberang ke sungai yang lebih bagus pemandangannya, kami harus meniti 3 batang pohon, yang berada di ketinggian sekitar 10 meter. Di bawahnya tidak ada matras, dan tidak ada tali pengaman untuk kami.

Ini dia jembatan mengerikan menuju pemandangan mengesankan
Finally, kami bisa istirahat, sekaligus mengambil gambar dengan riang gembira. Hasil fotonya sudah saya edit, dengan bantuan color efex pro 3.0.

Model: Gitamy Ningrum

Model (ki - ka): Melki Loken, Gitamy Ningrum, Nurul Ulfah
Model (ki -ka): Okky, Gitamy, Nurul, Melki
Oke, selesai sudah foto dipamerkan. Tips bagi Anda yang tertarik ke Bislab:
- Siapkan air minum
- Siapkan Tisu / handuk kecil
- Pastikan Anda sudah ke toilet
- Siapkan kamera, baterai, memory, dll
- Pastikan Anda dalam mood yang bagus.

Sekian dulu travel review Edisi Bisseang Labboro, Maros, Sulawesi Selatan. :)

Travel Review: Bugis Waterpark

Sejak soft launching akhir Maret 2012 lalu, Bugis Waterpark ramai menjadi perbincangan. Warga Sulsel sudah sangat ngidami dengan wahana rekreasi baru di kota ini. Pantai Losari yang menjadi landmark rupanya kurang cukup menjadi alternatif tempat hiburan untuk melepas penat.

Nah, PT Kalla Inti Karsa melalui proyek Kalla Hospitality, lantas membangun arena taman air di lahan seluas 4 hektar. Lokasinya di tengah permukiman elit, Perumahan Bukit Baruga, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.

Disain pintu masuk dari Bugis Waterpark (BW) ini sangat unik. Kesan bambu - bambu cokelat muda sangat mencuat. Juga, ada rangka kapal Phinisi yang belum jadi di atas pintu masuk.

Pintu Masuk Bugis Waterpark
Menurut General Manager BM, ada 10 wahana air di tempat ini. Seluruhnya menggunakan material impor. Sebelumnya, di Kabupaten Maros, tak jauh dari Makassar, ada pula wahana air serupa, yang diberi nama Maros Waterpark. Namun, di BM, bahan fiber yang digunakan adalah yang terbaik. Diimpor langsung dari Turki.

Material diimpor dari Turki. Luncuran ini memiliki tinggi 15 meter
Selain itu, ada lagi hal baru di arena rekreasi ini yang tidak dimiliki tempat wisata lain. Pengelola menyiapkan lifeguard. Para lifeguard ini dilatih langsung oleh Korps Marinir dari Surabaya. Mereka akan siaga di sekitar kolam. Selain alasan keselamatan, lifeguard ini juga sebagai ajang pembelajaran kepada masyarakat untuk bisa berdisiplin, taat antri, dan menjaga kebersihan.

Seorang lifeguard bersiaga di depan moncong luncuran
"Isi" dari Bugis Waterpark ini juga sangat berkelas, dan menjanjikan keamanan buat Anda. Sangatlah worth it untuk menghabiskan waktu di tempat ini bersama keluarga maupun kolega. Tiket masuknya pun juga tidak terlalu mahal. Antara 75.000 - 150.000 rupiah per orang. Jangan datang di hari Senin ya, sebab saat Senin tiba, para kru terlibat maintenance di seluruh area BM.

Tulisan ini saya tutup dengan gambar pasangan yang kebelet pipis. hehehe.. Awas kebelet ke Bugis Waterpark!


Wednesday, October 26, 2011

Capturing Ekspression

Indriani Darwis. Lokasi: Gazebo Fakultas Hukum Unhas. 22/10/2011. Canon EOS 1000D

Yutirsa Yunus dan Icmi Tri Handayani. Lokasi: Ruang Tunggu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. 30/05/2011. Canon EOS 1000D