Saat disebut Oxford University, apa sih yang terlintas. Kampus bersejarah, orang - orang kutu buku, perpustakaan.. Hmmmm. Dua dari tiga kriteria subjektif saya itu terbukti sih. Untuk kriteria "orang - orang kutu buku", sayangnya tidak saya temukan. Mahasiswa yang berseliweran di kampus terlihat biasa saja dari luar. Mungkin akan beda kalau mahasiswa ini saya temui di acara konferensi atau seminar ilmiah.
Oke, jadi, saya berkunjung ke kota Oxford pada 21 Desember 2015, sehari sebelum saya mengakhiri tur London. Ternyata Oxford itu hitungannya jauh dari London. Untuk ke sana, kami 1 jam naik bus. Bus tujuan Oxford ada tiap 15 menit sekali di Marylebone Bus Station. Tiketnya seharga £12 untuk pelajar termasuk perjalanan pulang pergi. Kami membayar cash ke pak sopir lalu mendapat struk kecil yang bisa dijadikan tiket pulang.
Stasiun Bus di Oxford ini canggih sekali. Kami singgah di toilet umum sebelum berjalan ke Oxford University. Toilet ini gratis, tak seperti toilet di London yang umumnya meminta kita membayar 30 hingga 50 pence. Sudah gratis, canggih pula. Di dinding dekat pintu keluar, ada 3 buah kotak warna abu - abu yang melaksanakan 3 fungsi sekaligus.
Stasiun Bus di Oxford ini canggih sekali. Kami singgah di toilet umum sebelum berjalan ke Oxford University. Toilet ini gratis, tak seperti toilet di London yang umumnya meminta kita membayar 30 hingga 50 pence. Sudah gratis, canggih pula. Di dinding dekat pintu keluar, ada 3 buah kotak warna abu - abu yang melaksanakan 3 fungsi sekaligus.
Mesin cuci tangan 3 in 1 |
Mengeluarkan sabun cuci tangan, mengalirkan air untuk membilas, dan menghembuskan uap panas untuk mengeringkan tangan.
Mesin canggih di toilet umum Stasiun Bus Oxford |
Saking canggihnya alat ini, saya sampai cuci tangan dua kali. Hahaha. Airnya juga hangat Sis. Ohya, kita tak perlu pula menekan tombol karena alat ini dilengkapi pendeteksi infra merah.
Lanjut, dengan bermodal Google Maps di ponsel, kami mencari keberadaan kampus Oxford. Inilah gedung pertama yang kami temukan. Entah fakultas apa namanya. Gedungnya berwarna krem cerah, atap abu - abu dan beralaskan rumput hijau yang lapang.
Karena tak yakin inilah gedung utama kampus Oxford, kami bertanya kepada Mbak - mbak yang melintas. Mbaknya menjelaskan, kalau Oxford tidak punya kampus utama. Hoapaaahhh. Lantas di mana gerangan tempat orang - orang turis foto - foto ria. Jadi, kampus Oxford ini tersebar di seantero kota. Tapi, menara yang ada jamnya serta bangunan perpustakaan bisa ditempuh dengan jalan kaki menuruni bukit. Baiklah.
Kampus Oxford gedungnya terpisah - pisah dan tidak ada kampus utama. |
Kota Oxford dan pejalan kaki. |
Perjalanan berlanjut dan kami menemukan kelompok tur yang berkumpul di dekat pohon natal. Area ini sudah masuk ke dalam kompleks perpustakaan kampus Oxford. Perpustakaan ini juga salah satu yang tertua di dunia. Suasana di sekitar sini mirip di kastil. Lihat saja atap dan ornamen di atas atap bangunan. Saya serasa berada di dalam game Stronghold Crusader.
Boldleian Library, University of Oxford. |
Kota Oxford jelang Natal |
Kami keluar dari salah satu sudut perpustakaan tadi, dan berjalan - jalan di trotoar kota. Kami masuk ke toko souvenir yang hangat. Ya literally hangat karena heaternya ampuh mengusir dinginnya tubuh kami di cuaca sekitar 5 derajat selsius siang itu. Banyak souvenir yang dijual. Mulai dari jaket dan kaos tulisan Oxford University, tas, mug, dan bahkan kondom. Liat saja foto di bawah ini.
Toko suvenir jualan kondom. Ada wajah Mr. Bean. |
Dari toko souvenir, kami berjalan lagi ke mana hati ini menghendaki (halah). Akhirnya kami tiba di bangunan yang punya kubah. Nama bangunan ini adalah Radcliffe Camera. Camera berarti ruangan. Sedangkan nama Radcliffe diambil dari orang yang menyumbangkan uangnya untuk pembangunan gedung ini yang tak lain adalah John Radcliffe. Gedung bundar ini adalah bagian dari perpustakaan sains Universitas Oxford.
Radcliffe Camera, University of Oxford |
Menurut Wikipedia, arsitektur Radcliffe Camera ini menganut gaya Palladian. Gedung ini sudah difungsikan sejak abad - 18. Hm, waktu itu Indonesia masih bergumul dengan VOC.
Separuh Radcliffe Camera |
Di belakang Radcliffe Camera berdiri kokoh sebuah menara dengan jam di atasnya. Kami selalu mengistilahkan bangunan semacam ini dengan "jam gadang". Jam gadang di Oxford mirip - mirip lah sama yang ada di Glasgow. Bahkan menara inipun mirip dengan Chapel di University of Glasgow. Yang menarik adalah, selama kami melihat - lihat Radcliffe Camera dan jam gadang ini, cuaca cepat sekali berubah. Dalam 15 menit, langit cerah lalu mendung lalu hujan dengan cepat.
Jam gadang Oxford saat mendung |
Hari berganti cerah |
Saat hujan sedikit reda orang - orang kembali lalu lalang. Ada pula yang mengambil sepedanya yang diparkir di pinggir pagar Radcliffe Camera. Sepeda adalah moda transportasi yang tepat di Oxford. Kota ini kecil saja. Barangkali ramai dan terkenal karena ada kampus kenamaan di kota ini. Mau naik bus juga nanggung, sementara jalan kaki lumayan menguras tenaga. Maka, sepeda adalah pilihan yang tepat.
Bangku taman bertuliskan "Oxford City Council" - Pemerintah Kota Oxford. |
Jelang senja di kampus Oxford. |
Penasaran dengan set sekolah Harry Potter itu. Selain itu, kota ini juga punya pemandangan eksotis, khususnya bangunan - bangunannya. Alangkah lebih asik lagi kalau saya riset dulu soal arsitektur bangunan di Oxford dan membandingkannya dengan Glasgow. Belum lagi, saya juga penasaran ingin masuk dan melihat - lihat koleksi buku di Boldeian Library. Baik Oxford, semoga ada umur panjang, semoga kita jumpa lagi.
No comments:
Post a Comment